Minggu, 11 November 2012

DINAMIKA PEMIKIRAN ISLAM KONTEMPORER





Ust. Hefni zain
                    
 Islam bukan sekedar serentetan keyakinan yang memfosil, juga bukan sekedar  masalah pribadi yang bersifat individual, tetapi ia merupakan way life paripurna yang terus bergerak dinamis membentang melampaui sekat tempat dan  zaman. Islam  terus hidup berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia, karenanya tidak heran dalam konstelasi pemikiran islam selalu muncul pelbagai model pemikiran sebagai indikator betapa dinamisnya islam dalam upaya menjawab persoalan kemanusian yang terus berkembang dan berubah.
Istilah-istilah seperti rethinking, rekonstruksi, dekonstruksi, revitalisasi dan istilah-istilah sejenis untuk menunjuk pada upaya pencarian paradigma baru pemikiran islam adalah sederat fakta yang menguatkan bahwa ketinggian  islam  sesungguhnya tidak saja terletak pada teks-teks dan doktrin sucinya, tetapi yang lebih substansial adalah terletak pada kecemerlangan dan efektifitasnya dalam menjawab berbagai persoalan kemanusia kontemporer. Bentuk bentuk intensifikasi dan pencarian kembali nilai nilai islam seperti itulah yang kemudian disebut sebagai gelombang islamic revival.
Namun demikian kiranya dapat dikatakan bahwa setiap model pemikiran dalam islam merupakan sesuatu yang relatif, sebab ia adalah “kegiatan manusiawi” yang terkooptasi oleh konteks tertentu, ia tidak akan pernah lepas dari kebutuhan seorang penggagas atau penafsir di suatu masa dan ruang yang tertentu pula, karenanya  ia tidak terbebas dari probabilitas salah selain probabilitas benar.
**
 Umat Islam indonesia telah melewati liku liku kehidupan sejarah yang sangat panjang, pahit getir kehidupan sudah sering dirasakan, mereka telah cukup dewasa menghadapi berbagai peristiwa, yang paling menyakitkan sekalipun, karena itu umat islam indonesia tidak mudah terkooptasi  oleh hal hal yang bersifat “mode” . Sudah lama muncul kesadaran bahwa berfikir yang besar jauh lebih utama dari sekedar menghabiskan energi untuk berpolemik pada hal hal yang kurang essensial. Bahkan tidak sedikit kita saksikan umat islam indonesia tidak lagi terikat oleh faham modern atau tradisional, liberal atau fundamental, mereka hanya mau terikat dengan islam universal.
Yang menjadi focus saat ini bukan soal furu’iyah yang kecil, tetapi bagaimana islam secara efektif dan elegan mampu menjawab semua persoalan manusia global. tidak ada gunanya ribut ribut soal siapa yang disebut fakir dan siapa yang disebut miskin, yang lebih penting adalah bagaimana mengentas kemiskinan. Tidak penting soal pakai qunut atau tidak qunut, yang penting adalah bagaimana sholat bisa efektif untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang bedaya dan madani. Umat Islam Indonesia  banyak yang lebih tertarik pada paradigma akhlak yang memungkinkan terciptanya persatuan daripada paradigma fiqih yang memunculkan khilafiyah.
Namun ddmikian, sudah saatnya masing masing pihak menyumbangkan kontribusinya bagi kebangkitan kembali umat islam setelah sekian lama terlelap.
**
Kendati diyakini bahwa doktrin semua agama menganjurkan perdamaian, cinta kasih, toleransi, harmonisasi dan prinsip kebersamaan, Namun sulit dibantah bahwa hubungan antar umat beragama, khususnya dalam masyarakat yang majemuk ternyata tidak selamanya harmonis. Bahkan dalam realitas historis-empirik  faktor “kepentingan” politis, ekonomi, sosial dan pragmatis lainnya acapkali menjadikan doktrin teologis tidak mampu lagi menggugah nurani para penganut agama untuk membangkitkan semangat kebersamaan dan toleransi tersebut.
Campur aduknya aspek doktrin teologis ajaran agama dengan aspek kultural-historis-sosiologis yang menrupakan hasil tafsir manusia atas ajaran agama, sering menambah kian rumitnya persoalan keagamaan pada wilayah historis –empiris kemanusiaan. Dalam banyak kasus, umat beragama sangat sulit membedakan antara mana yang doktrin agama yang bersifat normatif (dilandasi teks teks suci) dan mana pula yang tafsir terhadap teks teks suci (sering dimuati kepentingan historis, politis, kultural dan sosiologis). Tumpang tindih antara konsepsional normatif dengan operasional interpretatif, antara teks dan realitas, antara ajaran yang semestinya dan ajaran yang telah dipraktekkan pada wilayah keagamaan, pada gilirannya menyeret agama  dalam dua wajah. Satu sisi sebagai sumber perdamaian, tapi disisi lain mengandung potensi konflik.
Realitas seperti inilah yang –salah satunya—mendorong bahkan memaksa banyak pihak berupaya mencari “sebuah pendekatan baru ” yang melampaui pendekatan lama  dalam kajian keagamaan (Arkoun menyebutnya : Rethinking agama) guna menemukan ajaran yang semestinya sekaligus mendemarkasinya secara tegas  dengan ajaran yang telah dipraktekkan berdasarkan tafsir kepentingan.  Upaya ini menjadi urgen dalam rangka –selain  agar kita  tidak “kecele”—juga untuk membangun hubungan antar umat beragama yang harmonis dan beautiful.
Nah, karena dalam diri  apa yang disebut Postmodern –walau samar samar—terdapat beberapa  ide dasar atau lebih tepatnya  metode , seperti :  : dekonstruksi, pluralisme, relatifitas, pembentukan diskursus dan kritisisme baru serta budaya dialog, yang “dianggap cukup mach” dengan kepentingan diatas, maka diskursus disputar Postmodern –inkludid filsafat perrinial— mulai  banyak mendapat respon kaum agamawan dan peminat study study agama.
Salah satu persoalan menarik yang muncul dalam wacana mengenai Postmodern dan agama adalah bagaimana perspektif tersebut dapat ditransfigurasikan sebagai alat analisis untuk  mengkaji agama. Hal ini mungkin riskan, terutama karena sebagian pihak masih menilai bahwa apa yang disebut sebagai “pemikiran Postmodern masih belum menemukan bentuk dan karakternya yang jelas.  Bersliwernya banyak idiom pada saat itu seperti : tran Modern, meta modern, new modern  dan pasca modern yang semuanya belum tuntas,  tak ayal membuat  kian rancunya  apa yang disebut sebagai  pemikiran Postmodern.
sebagai suatu aliran perkembangan pemikiran, post modern muncul ketika manusia mencari kepastian, tetapi kemudian ia dihianati oleh tiap kepastian yang dipegannya, lalu terjadilah proses dimana ia menjadi ragu pada kepastiannya itu.
Dikisahkan oleh Jean Francois Lyotard, di zaman primitif  manusia menjadikan alam sebagai centre  of life sehingga saat itu manusia selalu diliput oleh hal-hal mistik yang irrasional, kemudian muncul agama menawarkan kepastian dan menjanjikan suasana kehidupan yang lebih harmonis dan prospektif, Walau tidak ada satupun doktrin agama yang ada menganjurkan kekerasan,  tetapi realitasnya justru  banyak sekali perang dan keributan kemanusian bertolak dari isu agama, sejak itulah sebagian manusia mengalami  dis-trass  terhadap agama, lalu berpindahlah pencari kepastian itu pada sains.
Sains untuk beberapa saat menggeser agama dalam memberikan harapan baru dan kepastian keselamatan kemanusiaan. Namun ketika sains juga gagal memberi solusi pemecahan terhadap problematika kemanusiaan dan bahkan justru memunculkan blunder baru yang lebih fundamental, maka manusia mulai sangsi atau bahkan pudar kepercayaan mereka terhadap obsesi obsesi makro yang selama ini digantungkan pada sains dan rasionalitas.
Dalam suasana kebatinan seperti ini, kemudian muncul pemikiran postmodern yang atensinya terhadap pluralitas dan relativitas sangat tinggi, sehingga yang partikuler  –disebut narasi narasi kecil—juga diberi tempat. Disini kita melihat post modern bisa memberi tempat terhadap produk budaya yang dalam pemikiran modern disebut non rasional. Maka dibawah payung post modern, berbagai jenis dan model pemikiran, misalnya semacam “new age”, atau model agama yang tradisionalis, fundamentalis, liberalis dan semacamnya juga memperoleh tempat terhormat dan dapat berkembang secara baik, sebab bagi postmodern, setiap agama, manzab, tradisi, nilai atau aliran pemikiran  sama-sama mempuyai pesan yang sama  yakni kebenaran abadi.

TASAWUF CINTA


Ust.Hefni Zain

I

Tasawuf adalah sebuah elemen penting dalam islam, bagi sebagian orang bentuk bentuknya kerapkali dianggap tak lazim dan ide idenya acapkali dianggap sulit dicerna, tetapi bagi kaum sufi sendiri, tasawuf dipilih sebagai jalan menerobos masuk ke sisi terdalam dari religiusitas islam, sebab  mereka kurang puas dengan bentuk penghayatan agama yang bersifat  formalistik.
Cinta merupakan karakter utama yang mencirikan kehidupan para sufi, mereka menghadapi hidup dengan cinta, mendekati Allah dengan cinta dan menyandarkan penghayatan keagamaan mereka juga dengan cinta. Sungguh cinta karena Allah merupakan bagian dari ikatan iman yang paling mendasar dan kokoh, cinta merupakan jembatan yang dibentangkan Allah kepada manusia, maka tidak ada jalan yang lebih mempercepat wushul ila Allah kecuali jembatan cinta.
Mendekati Allah dengan cinta adalah sesuatu yang paling utama, sebab dengan cinta seseorang dapat menurunkan rahmat Allah yang tidak dapat diturunkan dengan wasilah lain. Allah tidak dapat dijangkau dengan pandangan mata kepala, sebagaimana firmanNya “la tudrikuhul absaar”,  tetapi sangat mungkin dijangkau dengan mata hati dan cinta, sebagaimana ditegaskan para sufi “ kulihat Tuhanku dengan mata hatiku dan cintaku, maka akupun berkata tidak disangsikan lagi yang Engkau itu adalah Engkau Tuhan.
Sebuah syair melukiskan “Allah menyeru kepada hambanya, kenalilah diriKu dengan cintamu, maka Akupun akan mengenali dirimu dengan cintaKu, bila engkau telah mengenaliKu dengan cintamu dan Aku telah mengenalimu dengan cintaKu, maka diriKu ada dalam dirimu dan dirimu ada dalam diriKu, dirimu dan diriKu satu dalam cinta”. Maka dalam  konteks cinta tidak ada lagi aku dan engkau, bila masih ada aku adalah aku dan engkau adalah engkau, belumlah ia sampai pada inti cinta sejati.
Allah pernah berfirman kepada  nabi musa as “Beruntunglah kaum yang menyembahKu karena cintanya padaKu, menjadikanKu tuhan mereka (almahbub), menghabiskan malam dan siangnya untuk beribadah  padaKu, memfokuskan semua perhatiannya padaku dengan cara memutuskan segala sestau selain aku”.
Dalam sebuah hadits juga disebutkan “barang siapa yang menjadikan tujuannya hanya kepada Allah semata, niscaya Allah akan mengatasi segala problemnya yang lain”. Dalam riwayat lain juga  disebutkan ﺀﻲﺸ ﻝﻜ ﻪﺑﺣ ﺍ ﺍﺩﺑﻋ ﷲﺍ ﺐﺤ ﺍ ﺍ ﺫ ﺇ “apabila Allah mencintai seorang hamba, maka hamba itu akan dicintai oleh segala sesuatu.
 II
Suatu hari Robi’ah Adawiyah berlari melintasi kota basrah, satu tangannya membawa ember berisi air dan tangan yang satunya membawa obor yang menyala, seseorang bertanya, Rabiah, apa yang hendak engkau lakukan? Aku ingin menyiram neraka dan membakar surga sehingga keduanya lenyap dan tidak ada lagi orang yang menyembah Allah karena takut akan neraka atau mengharap sorga, melainkan semata mata demi keindahanNya. Lalu Robi’ah ditanya orang, apakah engkau mencintai Allah yang maha agung ?, ya, aku sangat mencintainya jawab Robi’ah, orang itu bertanya lagi, apakah engkau menganggap syetan sebagai musuhmu? Rabi’ah menggeleng “tidak”. Si penanya  heran, kenapa begitu? Rabi’ah dengan seirus menjawab, rasa cintaku kepada Allah telah begitu menguasaiku sehingga tidak menyisakan tempat dihatiku dan tidak ada lagi kesempatan dihatiku untuk mencintai atau membenci siapapun.
Dalam sebuah doanya Rabiah Adawiyah berseru, Yaa Allah jika aku menyembahmu karena takut neraka, bakarlah aku kedalamnya, dan jika aku menyembahmu karena tamak sorga, campakkan aku darinya, namun jika aku menyembahmu demi engkau semata, maka janganlah engkau enggan memperlihatkan keindahanMu yang abadi padaku.
Cinta yang sempurna adalah datang dari pencinta yang tidak berharap apapun bagi dirinya, bagaimana mungkin engkau menginginkan pemberian ketika engkau sudah memiliki  sang pemberi, maka seseorang bisa disebut bertasawuf cinta ketika ia menyingkirkan semua yang ada di kepalanya, memberikan semua yang ada ditangannya dan tidak takut terhadap apapun yang menimpanya, sufi cinta adalah mereka yang melihat dalam satu arah dan hidup dalam satu jalan, sebab yang utama bukanlah yang menempuh banyak jalan, melainkan yang memilih jalan efektif untuk sampai pada tujuan, cinta dan taqwa  kepada Allah adalah jalan yang efektif untuk wushul ila Allah.
Diantara tanda tanda cinta hamba terhadap Allah adalah hatinya selalu bersih dan dipenuhi keyaqinan yang mantap, lisannya selalu diserta pujian, matanya selalu disertai rasa malu dan tangis, kehendaknya selalu diisi dengan meninggalkan kehendaknya, ia mendahulukan apa yang disenangi Allah diatas segalanya, dirinya selalu ridlo atas semua keputuasan Allah,  ia merasa nikmat dalam taat dan ibadah kepada Allah. Pendekar cinta adalah mereka yang merasa kaya dalam kemiskinan, yang menjadi tuan dalam penghambaan, yang merasa kenyang dalam kelaparan, yang merasa hidup dalam kematian, dan yang merasa manis dalam kepahitan.
Bila seseorang telah tenggelam dalam lautan cinta ilahi maka tidak ada sesuatupun yang dapat mempengaruhi keperibadiannya. Adakah orang yang telah merasakan manisnya cintaMu masih menginginkan penggati selainmu, adakah orang yang telah bersanding denganmu masih mencari penukar selainmu. Apakah gerangan yang diperoleh orang yang tela kehilanganmu, masih adakah kekurangan bagi orang yang telah mendapatkanMu? Seseorang yang telah mencintai Allah,  dirinya tidak mudah berputus asa terhadap rahmat Allah, mereka bersyair “demi keagunganMu duhai junjunganku, jika engkau mengusirku, aku akan tetap berdiri di depan gerbangMu, aku tak akan berhenti merayuMu sampai aku mencapai titik puncak ma’rifat dengan kebaikan dan kemulyaanmu”, Maka mereka selalu merindukan ibadah kemudian menghanyutkan diri didalamnya dan mencintai sepenuh hati  dan sekujur jasadnya, ia memberikan tempat dihatinya dan tak mempedulikan apapun yang terjadi dalam urusan dunia.
Karena itu melangkahlah lillah dan jangan hiraukan penilaian orang, kalau kalian berbuat sesuatu hanya ingin disebut ikhlas maka itu tidak ikhlas, demikian juga  bila kalian meninggalkan sesuatu hanya karena khawatir disebut tidak ikhlas maka itupun tidak ikhlas. Intinya “jadilah seperti karang ditengah samudera yang kokoh menghadapi ganasnya gelombang, atau jadilah kalian seperti ilalang yang lentur dan tidak patah oleh beban dadakan seberat apapun.

III
Perjalanan cinta kepada Allah mesti dimulai dengan mencintai seseorang yang paling dicintai Allah yakni Rasululloh saw, perjalanan cinta kepada Rasululloh saw juga mesti dimulai dengan mencintai seseorang yang paling dicintai Rasululloh saw,  yakni para ahli baitnya yang suci, para sahabat nya yang setia dan para ulama’ serta pengikutnya yang terus konsisten memegang prinsip yang diajarkan dan dicontohkannya, maka beruntunglah orang orang yang mencintai mereka, bila anjing saja disebut beruntung karena  mencintai ashabul kahfi, mana mungkin seseorang tidak beruntung bila mencintai mereka yang dicintai  Nabi saw ?
Dalam hadist qudsi disebutkan ”Sesungguhnya ada hamba hambaku yang mencintaiku dan aku mencintai mereka, mereka merindukanku dan aku merindukan mereka, mereka memperhatikanku dan aku memperhatikan mereka, jika si fulan mengikuti mereka akupun akan mencintai si fulan, jika si fulan memusuhi mereka akupun akan memusuhi si fulan.
Diantara  syarat yang harus dilakukan seseorang guna mendapatkan cinta kepada Allah, seseorang tidak cukup hanya menjalankan ibadah normatif saja, melainkan harus melalui cinta dengan memperbanyak amalan amalan nafwafil, maka  bila Allah telah cinta kepadanya, jadilah Dia telinganya yang mendengar, matanya yang melihat, lidahnya yang berkata, tangannya yang memegang, dan kakinya yang berjalan, bila ia berdoa kepada Allah, maka akan dikabulkannya, bila ia meminta perlindungan dari segala kesusahan, maka akan dilindunginya”. 

IV

Dalam sebuah hadits disebutkan “Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan menolak karena Allah, maka telah sempurna imannya”. Jalaluddin Rumi menegaskan “ Jika tiada cinta, dunia akan membeku, cinta baginya adalah penaka lautan luas dan dalam, seluas dan sedalam daya jelajah nurani manusia itu sendiri, cintalah yang semestinya menjadi  landasan ibadah seseorang kepada Tuhannya, ia mestinya menjadi pilar bagi hubungan manusia dengan sesama atau manusia dengan kosmik.
Cinta adalah akar dari segala kebaikan dan keutamaan hidup manusia, tanpa cinta manusia akan saling bermusuhan satu sama lainnya, perang adalah bentuk ekstrim dari corak hubungan manusia yang kering akan cinta, keributan kemanusiaan adalah manefestasi dari iklim hati yang membeku karena sepi dari gairah cinta, hati tanpa cinta adalah garang, tulisan tanpa cinta hanya nuktak tak bermakna, puisi tanpa cinta hanyalah mbanyol dan akal tanpa cinta adalah kebingunan  belaka.

MEMAHAMI UNGKAPAN GANJIL KAUM SUFI




Ust. Hefni Zain

Ibrahim basyuni dalam kitabnya “Nas’at al Tasawwuf al Islam”  mengisahkan bahwa suatu ketika Rasululloh saw sedang khusu’ tafakkur kepada Allah swt, tiba tiba masuklah Aisyah  istrinya, beliau merasa terganggu atas kehadiran sang istri, lantas Nabi bertanya : siapa engkau? saya, Aisyah, jawabnya. Siapa Aisyah itu? Aisyah tercengang  lalu menjawab, istri paduka, putri Abu bakar. Siapakah Abu bakar itu? teman paduka sendiri. Siapa paduka itu ? Anda sendiri, Muhammad, jawab Aisyah. Siapa Muhammad itu ?, Demi mendengar pertanyaan tersebut, Aisyah sadar bahwa Nabi saw sedang dalam kondisi  tidak sebagaimana mestinya.  Kisah ini oleh kalangan sufi dijadikan salah satu sandaran bahwa dalam keadaan fana, seseorang akan merasa bahwa dirinya tidak ada, yang ada hanyalah Tuhan yang maha besar, yang menciptakan dan mengadakan segala yang ada.
Dalam kamus tasawwuf ungkapan ganjil dikenal dengan istilah “shatahat “  yakni perkataan --yang menurut umum-- ganjil yang keluar dari lisan seorang sufi yang tengah berada dalam kondisi ekstase, misalnya :  ucapan  Al hallaj ” aku adalah Allah yang ku cintai dan Allah yang Kucintai adalah Aku,  Juga ucapan Al busthomi “ Maha Suci Aku, Maha suci aku, maha besar Aku”,  atau juga ucapan Junaid Baghdadi “Tiada sesuatupun di bawah jubahku melainkan Allah” dan banyak lagi yang lain. Perkataan ganjil ganjil semacam inilah yang kemudian membuat Al Hallaj dijatuhi hukuman mati  tahun 309 H oleh kholifah Al Muqtadir billah di masa bani  Abbasiyah. Hukuman mati atas diri al Hallaj itu sendiri hingga saat ini masih menimbulkan pro kontra  dikalangan ulama’  terkemuka  dan bahkan tetap menjadi bahan diskusi yang aktual terutama bagi mereka pemerhati dan  penikmat ilmu tasawwuf. 
Dunia tasawwuf adalah dunia yang unik, misalnya dalam mengekspresikan suatu ibadah, kaum sufi memiliki karakteristik tersendiri, menurut mereka seseorang yang ber ibadah tanpa memperhatikan makna bathiniyahnya  tak ubahnya seperti anak kecil yang membaca buku tanpa tahu maksudnya, menurut mereka, sholat bukan sekedar sejumlah kalimat yang diucapkan dan gerakan jasmani yang didemonstrasikan, melainkan sebuah proses dialog spiritual , sambung rasa, kontak emosi antara ‘abid dengan ma’bud, semua gerakan dan kata yang diucapkan dalam sholat adalah simbol yang maknanya merupakan bagian dari komonikasi bathiniyah antara manusia dengan Tuhannya. Berangkat dari realitas tersebut, maka tidak mengherankan jika dalam diri seorang sufi seringkali dijumpai hal hal yang ganjil atau nyeleneh menurut ukuran di luar sufi, misalnya : Wahdatul wujudnya Ibn Araby, Ma’rifatnya dzun Nun Al Misri, Ittihadnya Abu Yazid al Bustomi dan terutama Hululnya Abu Mughis al Husien ibn Mansur al Baidawy al Hallaj.
Sepak terjang Al Hallaj yang tidak sabar menahan limpahan kebahagiaan, sehingga rahasia cintanya ia bocorkan sendiri  dengan konsep yang dia sebut hulul yang didasarkan pada pengalaman batin, kehalusan rasa, ketercerahan emosi dan berdasarkan ilham dari alam ghoib telah menggegerkan konstelasi ulama’ fiqh dan bahkan mendapat reaksi keras dari mereka, dan puncaknya Ibn Dawud al Astihami (manzhab dhahiri) mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Al hallaj adalah sesat, maka iapun ditangkap dan dihukum mati. Kendati demikian,  figur al Hallaj hingga kini masih tetap mendapat simpati yang besar dari banyak penikmat kecerdasan dan kecerahan kalbu.
                                                                               
Apa yang disebut Hulul dalam konteks ini adalah tipe lain dari faham al Ittihad yang diajarkan Abu Yazid Al Busthomi, sedangkan pengertian hulul  secara  sederhana   adalah bahwa Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu setelah ia dapat melenyapkan sifat sifat kemanusiaannya melalui fana’. Menurut al Hallaj, manusia itu mempunyai potensi dasar ganda, yakni sifat kemanusiaan (Nasut) dan sifat keTuhanan (Lahut), apabila sifat sifat kemanusiaan itu telah dilenyapkan melalui proses fana’ dan sifat sifat keTuhanan dikembangkan secara optimal, maka akan tercapai persenyawaan dengan Tuhan dalam bentuk lahut, persenyawaan yang semacam ini menurut al Hallaj akan mengambil bentuk hulul (bahasa Jawa : nitis).  Itulah yang terjadi ketika Allah swt memerintahkan malaikat bersujud kepada Adam sebagaimana diceritakan pada surat al baqarah : 34, menurut al Hallaj Allah memberi perintah semacam itu, karena pada diri Adam Allah swt  telah menetes.
Dengan demikian dapat difahami bahwa kata kata “ana al Haq” yang di ucapkan al Hallaj bukanlah dimaksudkan sebagai pernyataan bahwa dirinya adalah Tuhan, buktinya Al Hallaj sendiri menegaskan  “ﺎﻧﻧﻴﺒ ﻖﺮﻓﻓ ﻖﺣ ﺎﻧﺍ ﻝﺑ   ﺎﻧﺍ ﻕﺤﻠﺍﺎﻤ ﻖﺤﻠﺍﺭﺴ ﺎﻧﺍ “  (Aku adalah rahasia yang maha benar  dan bukanlah yang maha benar itu adalah  aku. Aku hanya salah satu dari yang benar, maka bedakanlah antara kami).  Maka hulul yang terjadi pada al Hallaj harus difahami sebagai  figurative dan bukan riil, artinya yang terjadi hanya sekedar kesadaran psikis yang berlangsung pada kondisi fana’. Banyak ungkapan  senada dengan al Hallaj yang terlontar dari lisan para sufi, misalnya “Tuhanku, apa jalannya untuk sampai kepadaMu?, Allah menjawab : tinggalkan dirimu dan datanglah. Siapa yang menghilangkan sifat sifat kemanusiaannya, maka ia memiliki sifat sifat Tuhan. Ada juga ungkapan “Aku tahu pada Tuhan melalui diriku, hingga aku hancur, kemudian aku tahu padanya melalui diriNya, maka akupun hidup”.
Dalam alqur’an ditegaskan upaya menyucikan diri harus diiringi dengan proses meninggalkan rumah kita, Allah berfirman “barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud behijrah kepada Allah dan rasulNya, lalu kematian menjemputnya, maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah… (Qs. An Nisa’ : 100) . Menurut ahli tafsir kata “ Rumah”  dalam ayat tersebut sebagai “diri, egoisme, keakuan dan seluruh kepemilikan duniawiyah”. karenanya Alqur’an menyebut orang yang beribadat kepada Tuhan tanpa meninggalkan dirinya (karena terlalu cinta akan dirinya, keluarganya dan kepemilikan duniawiyahnya) sebagai orang yang telah mengambil Tuhan selain Allah, Ia mencintai diri, keluarga dan kepemilikan duniawiyahnya melebihi cintanya kepada Allah. Allah swt berfirman “Diantara manusia ada orang orang yang menyembah tandingan tandingan selain Allah, mereka mencintainya sama seperti mereka mencintai Allah. Sementara orang orang beriman sangat mencintai Allah (Qs. Al baqoroh : 165).
Memang memahami idiom syair, harus melalui pendekatan sastra dan bukan dengan bahasa formal keseharian, sebab jika itu yang dipakai maka tidak akan klop dengan yang sejatinya dimaksudkan. Rabindranat pemenang hadiah Nobel kesusastraan, dalam syairnya mengatakan ”tak henti hentinya Kau isi cawan ini dengan anggurMu”  apakah bisa diartikan bahwa Tuhan memeras anggur atau Dia membutuhkan minuman ? jelas tidak demikian, yang dimaksudkan adalah Tuhan tidak henti hentinya memberi karunia dan nikmat kepada dirinya. Atau ketika seseorang berkata “ wajahmu  bagai bulan purnana yang menari riang.  Apakah itu berarti bahwa bulan bisa menari ? tentu tidak.  Jadi dapat dimengerti betapa pendekatan verbal akan sangat jauh kesalahannya jika digunakan untuk memahami idiom idiom syair yang nyastra.                                                                                              
Dengan demikian maka statemen al Hallaj, al Bustomi, Junaid Baghdadi,  Ibn Araby,  termasuk syekh siti jenar yang ganjil itu sesunguhnya tidak ganjil seandainya dilihat dari perspektif dan bahasa mereka, atau seandainya kita bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam diri kita, sebab memang tidak ada satupun bahasa yang representatif mampu menggambarkan keadaan yang sebenarnya dari pengalaman  spiritual  personal seseorang, karena itulah kaum sufi  selalu mengatakan “ barang siapa yang belum pernah merasakannya, niscaya dia belum mengetahuinya”.
Abu Nasr Tusi ketika menanggapi shatahat pada kaum sufi mengatakan bahwa  Ibarat air hujan yang sangat deras dan  banyak mengalir keselokan yang sempit., maka pasti dalam kondisi yang semacam itu air akan melimpah ruah dari kedua tepi selokan itu, demikian juga seorang sufi yang sangat dominan intuisinya, ia sangat sulit  menanggung gejolak kalbunya yang memaksanya mengucapkan kata kata yang sulit dimegerti orang lain, kecuali bagi mereka yang pernah merasakannya. Ibarat seorang suami yang baru bulan madu bercerita tentang kenikmatan malam pertama kepada seorang bujang yang sama sekali  belum pernah kawin, maka si bujang baru bisa mengerti secara haq  jika ia pernah merasakan malam pertama dalam perkawinan.
Karena itu, sangat tidak logis dan cenderung tergesa  jika kaum sufi --hanya karena perkataan perkataan ganjilnya-- lalu diklaim sesat dan kafir. Juga sangat tidak masuk akal bila dikatakan kaum sufi mengaku dirinya sebagai Tuhan, sebab logika mengatakan apabila kaum sufi yang sepanjang hidupnya mencari Tuhan itu, mengaku dirinya sebagai Tuhan, maka hakekatnya mereka tidak perlu mencari Tuhan.