Hefni Zain
Kendati telah
dirintis berbagai upaya dan langkah reformasi pendidikan Islam, namun sulit
dipungkiri ia belum mampu keluar secara signifikan dari berbagai kelemahan
mendasar yang melilitinya sehingga kondisinya hingga detik ini belum juga
membanggakan.
Seperti
diketahui alqur’an hadits yang notabene merupakan landasan dan
dasar pendidikan Islam saat ini belum benar-benar digunakan sebagaimana
mestinya, hal ini diakibatkan oleh
minimnya pakar --di Indonesia-- yang secara khusus mendalami pemahaman
kedua sumber tersebut dalam perspektif pendidikan Islam, akibatnya proses
pendidikan Islam belum berjalan diatas landasan dan dasar ajaran Islam itu
sendiri.
Dalam ranah
konseptual tidak sulit kita melihat bahwa visi, misi dan tujuan pendidikan Islam seringkali hanya
diorientasikan untuk menghasilkan manusia – manusia siap pakai dan menguasai ilmu Islam saja, belum siap hidup
dan berkarekter Islami, sehingga lulusan pendidikan Islam acapkali terpinggirkan dalam ranah kompetisi global
dan konteks ruang yang lebih kompleks.
Problema ini kian
diperparah oleh belum tersedianya tenaga pendidik Islam yang profesional, yaitu
tenaga pendidik yang selain menguasai materi ilmu yang diajarkannya secara baik
dan benar, juga mampu mengajarkannya secara efektif dan efisien kepada
para peserta didik. Mesti diakui saat
ini para pendidik muslim secara umum belum dapat dikatakan profesional, hal ini
dikarenakan sumber daya pendidik muslim yang ada tidak berasal dari
lembaga-lembaga keguruan, mereka
direkrut menjadi tenaga pendidik karena alasan kebutuhan atau
alasan-alasan lain yang sifatnya jauh dari pertimbangan akademik dan kompetensi
profesional. Demikian juga berbagai upaya untuk meningkatkan kompetensi profesionalitas
pendidik melalui diklat, work shop, penataran dan sebagainya belum menunjukkan
hasil yang diharapkan, mengingat dalam aras riil berbagai kegiatan tersebut
sering lebih “bersemangat proyek“
sehingga tak jarang melenceng dari tujuan dan sasaran yang diharapkan.
ISU- ISU STRATEGIS
Bertolak dari
realitas tersebut, dewasa ini terdapat berbagai isu strategis yang perlu
dikembangkan dalam pendidikan Islam, antara lain :
Pertama, penataan aspek
fondasional, (a) perlu keberanian untuk melakukan berbagai rekonstruksi
paradigmatik oleh para pakar pendidikan Islam yang secara khusus mendalami
alquran hadits dalam perspektif pendidikan Islam, sehingga proses pendidikan
Islam betul betul berjalan diatas landasan ajaran Islam orisinil. (b) perlu
perubahan paradigma, bahwa pendidikan Islam bukan sekedar transformasi materi dan
informasi keIslaman dari guru ke peserta didik, tetapi bagaimana menghidupkan ghirah Islam dalam setiap jiwa
peserta didik. (b) perlu dikembangkan pendidikan model yang tidak hanya berorientasi
pada pemaparan teori melainkan pada contoh teladan yang kongkrit. (c)
perlu dikembangkan aplikasi pendidikan integralistik, humanistik, pragmatik,
dan idealistik. (d) perlu dikembangkan model pendidikan Islam yang menerapkan
trio cerdas bagi peserta didik secara sinergis, yakni kecerdasan intelektual
(IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan
kecerdasan spiritual (SQ).
Kedua,
penataan aspek operasional, meliputi (a) kontektualisasi kurikulum,
artinya kurikulum harus didesain
berdasarkan kebutuhan stakeholder melalui serap aspirasi, (b) pengembangan
strategi pembelajaran selain harus dioreientasikan pada konsep pembelajaran
aktif, kreatif, Inovatif, efektif dan menyenangkan (PAKIEM), juga harus
berbasis cinta, sehingga peserta didik diposisikan seperti anaknya sendiri .
(c) perlu diupayakan secara terus menerus peningkatan profesionalitas dan kompetensi
guru yang betul betul berbasis keguruan. (d) rekrutmen peserta didik mesti
dilakukan secara selektif sehingga terjaring bibit unggul potensial, dan (e) kelengkapan
sarana prasarana serta fasilitas pembelajaran mesti terpenuhi agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara optimal.
Ketiga, penataan aspek menejerial, yang mendesak dikembangkan
adalah meliputi (a) implementasi organisasi yang efektif dan efisien, (b)
perencanaan pendidikan yang visioner dan marketable, dan (c) upaya pengembangan net working yang luas serta bersifat sibiosis mutualistik.
TAWARAN MODEL PENDIDIKAN ISLAM
MASA DEPAN
Dalam
upaya mengejar ketertinggalan pendidikan Islam di segala bidang, terdapat
beberapa tawaran model pendidikan Islam masa depan, antara lain :
Model pendidikan Islam
berbasis humanistik demokratik.
Proses informatisasi
yang begitu cepat sebagai konsekwensi dari revolusi tehnologi telah membuat
horizon kehidupan di planit bumi ini semakin meluas sekaligus mengerut, hal ini
berarti masalah masalah kehidupan
manusia menjadi masalah global atau setidak tidaknya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kejadian dibelahan bumi yang
lain. Rontoknya sistem otoriter yang
menindas nilai nilai hakiki manusia dewasa ini menunjukkan keinginan umat
manusia untuk memperoleh kehidupan kemerdekaan yang sejati, usaha ini dalam
pendidikan telah melahirkan kembali pendekatan yang mementingkan pengembangan
kreatifitas dan kepribadian anak.
Gerakan humanisasi
ini menuntut reformasi mendasar ranah pendidikan di segala bidang,
kecenderungan demokratisasi global juga telah memaksa perubahan konsep
pendidikan Islam yang sebelumnya sentralistik birokratik berbasis kekuasaan
kearah demokratik transparan berbasis
partisipatoris, model ini berorientasi dan menjadikan “manusia” sebagai titik
pusat dan titik tolaknya, inilah yang kemudian dikenal dengan pendidikan
humanistik demokratik, yakni model pendidikan dari, oleh dan untuk peserta didik,
yang dimaksudkan mencegah terjadinya dehumanisasi. Konsederasi yang dapat
digunakan bagi model ini adalah bahwa setiap manusia dan masyarakat diciptakan
dalam keadaan merdeka, karena itu
kemerdekaan adalah hak setiap manusia, dan kemerdekaan sejati itu adalah
terbebasnya rakyat dari berbagai bentuk ketidak berdayaan disegala bidang.
Sifat dari
pendidikan model ini antara lain : Fleksibel, open minded, menolak berbagai
bentuk otoritarian dan absolutisme, liberal (Bahwa manusia sejak awal memiliki
kebebasan & kemampuan untuk eksis dalam setiap perubahan), maka tugas
utama pendidikan jenis ini adalah
mengoptiimalkan keberlangsungan dan kontinoitas perkembangan potensi awal (fitrah) manusia tersebut. Bagi model ini,
pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai esensi humanisme yang memiliki kejelasan dan tahan lama, sehingga
memberikan kestabilan dan arah yang
jelas. Model ini merupakan reaksi
terhadap gaya
hidup yang mengarah pada hal hal materialistik, positivistik dan duniawiyah
semata.
Proses pendidikan
Islam dapat disebut humanistik demokratis
apabila memenuhi beberapa karakter dasar sebagai berikut : (a) Ia bertolak dari, oleh dan untuk peserta
didik, ia ditopang oleh prinsip dasar bahwa setiap menentukan sesuatu harus
atas dasar musyawarah mufakat secara bebas, wajar, terbuka dan bertanggung
jawab, (b) Menekankan pengakuan kesederajatan paedagogis dan menempatkan peserta didik sebagai individu
yang unik, hidup dan memiliki bakat, minat, kecerdasan, skill dan sikap yang
berbeda satu sama lainnya, karenanya ia mesti menggunakan tratmen yang berbeda
pula sesuai dengan karakter mereka masing masing. (c) Melibatkan peserta didik
secara aktif dalam semua proses pedidikan serta mengacu pada continous
progress dalam meningkatkan percepatan achievement dan pemberian kebebesan
bagi akselerasi kreatifitas para peserta didik. (d) Mencerminkan bahwa belajar
adalah prakarsa peserta didik, pengakuan akan hak hak peserta didik untuk
memperoleh sesuatu sesuai dengan yang dibutuhkannya. Dan (e) Berupaya
membebaskan peserta didik dari berbagai bentuk penindasan, dehumanisasi, budaya
verbal, mikanik dan dangkal, serta membebaskan peserta didik dari berbagai
problem kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan.
Maka itu,
strategi tehnis yang perlu dilakukan dalam spirit model ini antara lain adalah
: (1) Melaksanakan reformasi, redefinisi dan reorientasi landasan teorik
konseptual proses pendidikan Islam yang mampu menumbuh kembangkan totalitas
jati diri peserta didik. (2) Menciptakan pluralisme dan variasi pendidikan, terutama
menyangkut strategi pembelajaran. (3) Menyediakan lingkungan belajar yang bebas untuk melakukan pilihan pilihan
tindakan belajar yang mendorong peserta didik terlibat secara emosinal,
rasional dan fisikal guna memunculkan kegiatan yang kreatif dan produktif. (4)
Adanya kesepakatan bersama melalui kontrak pembelajaran tentang model,
strategi, materi , tujuan serta evaluasi pembelajaran.
Model
pendidikan humanistik demokratik dalam tata kerjanya memiliki beberapa
indikator konkrit, antara lain : (a) Teacher pupil planning, bahwa
proses pendidikan dipilih dan ditentukan
bersama oleh peserta didik dan guru, (b)
Cooperative learning, belajar bersama antar peserta didik, saling
memberi dan menerima dengan tujuan saling melengkapi satu sama lain, (c), Individual
learning dan independent learning,
adanya kebebasan individu untuk mengaktualisir diri dengan memilih cara , bahan dan tujuan yang
dibutuhkan, (d) Group discussion, memecahkan masalah bersama, mengambil
kesepakatan bersama dengan saling mendengarkan dan menghargai pikiran semua
anggota kelompok, dan (e) Teacher is fasilitator, Guru bertindak sebagai
fasilitator yang berposisi sebagai salah satui sumber informasi dan bukan satu
satunya sumber informasi.
Dengan demikian maka
maksud primer pendidikan Islam
humanistik demokratik ini adalah: (a) sebagai penguatan (empowering) peserta didik melalui penyadaran diri untuk melakukan
tindakan efektif menuju perbaikan kondisi kehidupan mereka. (b) bersama peserta
didik menemukan dan memahami masalah riil dan kritis yang dihadapinya sekaligus
mencari solusi pemecahannya. (c) mewujudkan partisipasi pembangunan peserta didik dalam menangani
persoalan-persoalan aktual yang
dihadapi mereka
akibat globalisasi Internasional.
(d) mewujudkan peserta didik yang sejahtera, berdaulat, cerdas, terorganisir,
memiliki kemampuan mengelola sumberdaya mereka secara bertanggung jawab serta
memanfaatkannya secara bijaksana untuk melawan ketidak adilan budaya, politik,
pendidikan dan ekonomi global. Tujuan paling utama dari pendidikan humanistik
adalah terwujudnya manusia yang manusiawi.
Ali Syariati ketika memberi nasihat
kepada putra putranya mengatakan “Wahai putra putraku! Kalian boleh menjadi
insinyur, guru besar, ulama’, pedagang, atau apa saja. Tapi yang
paling mendasar dan jangan sampai kalian lupa, Jadilah kalian manusia!. Menjadi manusia adalah hal yang paling
penting, tidak ada gunanya seseorang menjadi profesor, ulama, birokrat atau
konglomerat, bila ia masih berada dalam derajat binatang.
Model
pendidikan Islam integralistik.
Pendidikan
integralistik adalah model pendidikan yang
memandang manusia sebagai satu kesatuan yang utuh, kesatuan jasmani,
sukmawi dan rohani, kesatuan intelektual, emosional dan spiritual, kesatuan
pribadi dan sosial . Oleh karena itu pendidikan masa depan tidak boleh hanya
focus pada education for the brain, tetapi juga pada education for
the heart, sebab faktanya pengembangan kreatifiats rasional semata tanpa
diimbangi oleh kecerdasan emosional terbukti menyeret manusia pada jurang demartabatisasi
yang membuat mereka kehilangan identitas serta mengalami kegersangan
psikologis, mereka hanya meraksasa dalam tehnik tapi terus merayap dalam etik.
Tujuan pendidikan model ini adalah untuk menghindari split personality pada diri manusia, juga disintegrasi personal ,
sosial, kultural dan spiritual dalam kehidupan manusia.
Globalisasi,
disatu sisi memang telah berhasil mengantarkan manusia pada puncak kebangkitan
tehnologi, tetapi disisi lain --disadari atau tidak-- telah menyeret manusia
pada pelbagai kegelisahan psikologis, syndrom aleinasi dan kecemasan yang tak
kunjung usai, karena itulah, ia disamping disebut sebagai the age of
tehnology juga dikenal sebagai the
age of anxiety . Adalah hukum alam, bahwa pembangunan yang berkembang begitu cepat akan
selalu seiring dengan biaya sosial yang harus dikeluarkan, berdirinya real
estate dan departemen store dipelbagai tempat akan seiring dengan kehadiran
perkampungan kumuh dan zona zona kejahatan, bila konglomerat bertambah maka
demikian juga dengan orang melarat dan orang jahat. Perkembangan daya nalar
yang tidak seimbang dengan daya spiritual hanya akan melahirkan manusia yang split
personality, kian banyak sosok pandai tapi kian langka sosok jujur, kian membludak
sosok yang pongah dengan pengetahuan tapi bingung menikmati kehidupan, mampu
merekayasa kosmik tetapi tidak mampu mengendalikan diri sendiri, alhasil globalisasi telah mengantarkan manusia pada
pucuk popularitas tetapi sekaligus menjadikannya mengalami krisis kemanusiaan
yang kronis.
Disaat
banyak manusia mengalami kecemasan dan keresahan yang tak berkesudahan, maka
reoreintasi pola hidup perlu segera dilakukan,
jalan hidup yang tidak “melulu ngakal” perlu segera dicari, sebab secara
empirik dalam kehidupan yang terus menua, dunia tidak saja memerlukan manusia
pinter, tapi yang lebih penting adalah munculnya manusia suci dan benar, maka
dalam konteks yang seperti itu “pola hidup ngati” adalah sesuatu yang niscaya.
Pola hidup ngati kiranya menjadi alternatif solutif sebagai pusat rehabilitasi
sosial bagi pihak pihak yang mengalami kegoncangan psikologis dan kegersangan
spiritual juga dalam rangka membentuk prilaku zuhud, qona’ah, sabar, ridlo dan
tawakkal sebagai balance terhadap kecenderungan pola hidup serakah,
materialistik dan hedonistik.
Maka
tidak heran, di barat sendiri dalam beberapa dekakde terakhir ini jalan hidup ngati (baca : jalan hidup sufi )
mengalami kebangkitan yang luar biasa, Hakim Chisthi dalam risetnya menemukan
bahwa di barat tatkala kemajuan IPTEK kian dipacu, justru semakin bermunculan
tarekat tarekat sufi, terutama di kawasan Manhattan seperti tarekat bookstore,
halvatiye Jarrahi dan semacamnya, bahkan di New york tarekat silmani yang
dipelopori Javad Nourbakhsh, dengan super aktif menerbitkan karya karya
sufistik kedalam berbagai bahasa, semua itu menandakan bahwa sejumlah
masyarakat di barat sendiri sudah masuk pada “tahap muak” dengan pola hidup
hipokrit hedonis yang justru memperbesar munculnya kekacauan dihampir semua
aspek kehidupan.
Model
pendidikan Islam Pragmatik.
Sejatinya
pendidikan berfungsi sebaga alat untuk
mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi kehidupannya dimasa yang akan
datang. Sedangkan kehidupan mendatang akan ditandai oleh perubahan-perubahan
yang amat dahsyat sebagai konsekwensi logis dari perkembangan nalar manusia.
Maka pendidikan mesti mampu mempersiapkan peserta didik yang mempunyai
kemampuan beradaptasi, berelevasi dengan kemungkinan-kemungkinan masa depan
tersebut sehingga tetap survive
Pendidikan pragmatik adalah pendidikan yang memandang
manusia sebagai mahluk hidup yang membutuhkan sesutu untuk melangsungkan,
mempertahankan dan mengembangkan hidupnya baik yang bersifat biologis (makan
minum, seks, tempat tinggal, dsb), psikis (berfikir, olah rasa, mengekspresikan
dirinya dalam karya seni, kebutuhan untuk mencapai sesuatu, self achievement, fulfillment, actualization),
maupun sukmawi (kebutuhan untuk berhubungan dengan yang adi kodrati).
Keberhasilan
pendidikan dalam konteks ini mesti diukur dari kegunaan nilai praktisnya,
artinya hasil pendidikan harus digunakan untuk memecahkan masalah masalah
praktis keseharian guna memenuhi kepentingan-kepentingan subjektif individu.
Maka menurut pendidikan jenis ini, kebenaran adalah apa yang bernilai praktis
dalam pengalaman hidup yang riil. Dengen pendidikan pragmatik diharapkan
dapat memacu kreatifitas, inovasi dan produktifitas juga dapat menghindari
bahaya berfikir terpola dan konsumtif serta hidup dependen.
Model pendidikan
Islam idealistik.
Pendidikan
idealistik adalah model pendidikan yang mamandang manusia sebagai mahluk yang
paling mulia dibanding mahluk lainnya dan
berusaha
membina sebuah konsensus yang paling luas dan paling mungkin tentang tujuan
utama dan tertinggi dalam kehidupan manusia. Untuk mewujudkan tujuannya
tersebut, model ini merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup
dan kebudayaan yang sama sekali baru, artinya guna memenuhi hasrat manusia yg
selalu berkembang, diperlukan usaha perombakan yang terus menerus .
Tujuan
utama dari pendidikan model ini adalah untuk membentuk manusia berguna, dan
diharapkan dapat mengobati berbagai kekacauan , kegagalan hidup serta
kehancuran hidup yang dialami manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar